Global citizen & Pasporku gak laku

Hingga detik ini, statusku adalah warga negara Indonesia yang dibuktikan melalui kepemilikan paspor ijo yang diterbitkan oleh KJRI [Konsulat Jendral Republik Indonesia] di Chicago, USA. Namanya KJRI, tentunya otoritas Indonesia bukan? Pemerintah Indonesia di luar negeri.

Logikanya begitu.

Siapa sangka bahwa statusku sebagai perantau yang menetap di luar Indonesia dan memiliki paspor Indonesia yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia [di luar negeri] ternyata membawa masalah justru di tanah air sendiri.

Beberapa kali urusan jadi belibet dan lebih lama gegara paspor yang juga merupakan identitas diri.

Kejadian pertama.

Terbang dari Penang [Malaysia] dan memasuki Indonesia melalui bandara Sultan Iskandarmuda [Banda Aceh] aku tertahan cukup lama. Penumpang lain di pesawat yang sama  lancar lancar saja melewati pemeriksaan imigrasi, bahkan udah pada pergi meninggalkan bandara, tinggal aku dan Menik yang tertahan di depan petugas imigrasi yang dari tadi membolak balik paspor kami. Karena dari tadi gak ada kemajuan, terpaksa aku dan Menik diajak mojok dan memasuki ruangan kantor Kepala Imigrasi.

Ngapain?

Diinterogasi.

Terjadlah percakapan seperti ini:

Kepala Imigrasi [KI]: Ibu kok paspornya keluaran Amerika?
Saya [S]: Saya tinggal di sana.
KI: Ada ijin tinggalnya?
S: Ada [sambil keluarin Permanet Resident Card]
KI: [membolak balik PR Card, kemudian membolak balik paspor] Paspornya asli bu, tapi entah kenapa gak bisa kebaca di komputer kami.
S: ya meneketeheee. Itu kan masalahmu keleus, bukan masalahku. [Tentu saja aku ngomong dalam hati, bukan diucapkan. Bisa bisa makin lama tertahan di bandara]

Setelah membolak balik halaman paspor dan cetak cetik di komputer, entah berapa lama, akhirnya kami berdua dilolosin, ditandai dengan dicapnya paspor kami. Jdokk….

Fiuhhh….

Keluar dari ruangan Kepala Imigrasi, porter barang udah merubungi kami dan ransel ransel kami sudah digeret tanpa seijin kami. Menik yang masih belum terbiasa dengan kondisi ini, iya iya aja. Dipikirnya gratis. Langsung aja ransel ransel terserbut kurebut dan dengan tegas bilang ke mereka “Terima kasih bapak, saya bisa membawa sendiri. Gak perlu dibawakan.”

Kejadian kedua

Lagi lagi kami tertahan lama saat menyeberangi selat Bali dari Ketapang [Banyuwangi, Jawa Timur] ke Gilimanuk [Bali]. Semua penumpang bis harus turun dan melewati pos pemeriksaan. Kami berdua [aku dan Menik] naik kereta api Mutiara Timur. Kereta api hanya sampai Banyuwangi kemudian lanjut dengan bis Damri yang harga tiketnya sudah termasuk dalam paket kereta api.
Pada saat melewati pos pemeriksaan, semua penumpang diminta menunjukkan Kartu Identitas Diri. Sebagian besar menyodorkan KTP, kecuali aku. KTP gak gablek jek, udah lama almarhum. Adanya paspor.

Logikanya, paspor termasuk Identitas Diri. Tapi entah kenapa ini jadi masalah. Aku diajak mojok sama petugasnya. Ditanyain macem2.

Petugas [P]: Kartu Identitas mana?
Saya [S]: Ini [sambil menyodorkan paspor].
P: Maksud saya KTP.
S: Lah ini tadi kan mintanya Identitas Diri, bukannya paspor termasuk Kartu Identitas Diri?
P: [dengan nada meninggi] Saya minta KTP.
S: Saya gak punya. Udah lama mati KTPnya. Adanya paspor.
P: Kenapa KTPnya mati?

Paling males ngejelasin kalau aku tidak tinggal di Indonesia, pasti bakalan panjang pertanyaannya. Dengan berat aku menjawab “karena saya tidak tinggal di Indonesia, saya tinggal di Amerika.”

P: Ada buktinya?
Gak banyak cincong, aku keluarin kartu PR saya. Saya pikir setelah itu selesai. Eh ternyata masih tertahan.

P: Ada keperluan apa ke Bali?
S: [Yaelaaaaaa……..] Jalan jalan pak. [Masak mau jualan krupuk].

Setelah dilolosin, akupun balik ke bis diiringi tatapan penuh tanya dari segenap penumpang karena aku adalah penumpang terakhir yang masuk ke bis. Begitu pantat nempel di kursi, penumpang sebelah bertanya, “baru pertama ke Bali ya?”

Errrrr……[dan siklus tanya jawab kenapa gak punya KTP  berulang]

Kejadian ketiga

Semenjak manajemen PT. KAI dipegang oleh Jonan, banyak sekali perubahan ke arah yang lebih baik. Aku suka karena kereta api adalah angkutan favoritku, kemana mana aku naik kereta api kalau memiliki waktu panjang. Salah satu pembenahan yang aku suka adalah, bisa beli tiket online, gak perlu capek antri seperti jaman naik kebo. Selain pilihan online, bisa juga beli di minimarket terdekat yang tentunya telah menjalin kerjasama dengan PT. KAI. Alhamdulillah kalau beli tiket online lancar lancar saja. Paspor termasuk dalam bentuk Identitas Diri, gak masalah. Yang lucu pada saat beli tiket di minimarket dengan menggunakan mesin mereka. Pake paspor ditolak, pake SIM sami mawon [karena bukan SIM Indonesia], akhirnya kasirnya membantu. Lagi lagi terulang kejadian tanya jawab kenapa gak punya KTP. Deuhhh…tape deh.

Kenapa harus KTP ya sebagai bukti Identitas Diri? Bagaimana dengan pelancong yang bukan warga Indonesia, apa kartu identitas yang digunakannya?

Itu belum termasuk pemeriksaan imigrasi di Singapore saat mendarat, saya selalu hampir dipinggirin, maksudnya masuk ke ruang khusus untuk diwawancara lagi, diminta sidik jari (lagi), selalu demikian berulang ulang.

Advertisements

8 thoughts on “Global citizen & Pasporku gak laku

  1. Astagaaaa maaaak.. di negara asal loooh ini padahal 😀
    Enaknya sih adu mulut yaa klo d cerca pertanyaan yang pliiiis deh, tapi mo gimana lagi, alur administratifnya maju-mundur-alay,xixixixixi

    • Nahhh itu dia.
      Ternyata saat itu pas lagi ada masalah, dirjennya akhirnya ngejawab di sebuah radio. Gak tau gimana itu akhirnya pelayanannya. Aku gak balik lagi ke imigrasi.

  2. Wah simpan paspor ijo kok malah dipersulit di negara sendiri 😦 aku pernah denger ada yang punya passport tapi nggak punya KTP, lalu dipersulit ketika mau buka rekening bank. Nggak dikasih buka rekening untuk WNI karena nggak punya KTP! Pdhl paspor masih hijau

  3. hua ha ha ha yo iki lah indonesia rek
    selalu mempersulit bangsa nya sendiri
    sebab nggak iso pungli nang wong asing satu2nya yg bisa di kerjain bgs sendiri
    sabaaaaar sabaaaat lek kesuwen jepreten karet ae irunge he he he he

    • Sopo ngomong gak iso pungli warga asing. Akeh mas sing wis kedaden dipungli.
      Tapi saiki wis berubah banyak. Gak ada pungli, birokrasi dipangkas, pelayanan umum jauh lebih baik timbang biyen. Tapi ya masih ada bolong bolong di sana sini, contone yo masalah imigrasi iki.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s