Lima hari tanpa mandi

Alhamdulillah, setelah hampir lima hari tanpa mandi, akhirnya ketemu air mandi, dan gratis pula. Dan yang menyenangkan adalah, tempat mandi tersebut berlokasi di dalam Terminal 3 bandara Soekarno Hatta Cengkareng.

Ahhhh….bangganya jadi orang Indonesia!!!

Eh tapi gimana ceritanya bisa lima hari gak mandi?

Perjalanan udara selama 5 hari melewati beberapa kota dengan rute: Duluth – Minneapolis – Detroit – Seoul – Hong Kong – Denpasar – Jakarta – Surabaya.

Tiga kota pertama di Amerika, Seoul di Korea Selatan, Hong Kong di Cina dan sisanya adalah di Indonesia.

Berangkat dari Duluth hari Minggu 2 Juli jam 1745 dan mendarat di Surabaya hari Kamis 6 Juli jam 0700. Selama perjalanan tersebut, mandi terakhir saat berada di hotel di Minneapolis hari Senin 3 Juli.

Setelah itu? Basuh ketek pake deodoran aja, plus raup muka tangan dan kaki. Pliket gak karuan. Iya sih di beberapa bandara ada fasilitas shower, tapi kudu ke lounge, dan itupun hanya buka sampai sekitar jam 9 malam dan kudu bayar $30 kalau buka.

 Kenapa kok sepanjang itu perjalanan untuk mudik aja?

Jadi ya, Duluth – Minneapolis terbang nonrev hari Minggu 2 Juli jam 1745, gak bayar babar blas. Namanya juga nonrev kan. Apa itu nonrev? Udah banyak aku ceritakan di beberapa postingan sebelumnya. Nginep semalam di Minneapolis, gak bayar juga, karena pake mileage. Sebetulnya bisa aja terbang hari Senen, biar gak usah nginep, tapi penerbangan paling pagi jam 7. Biasanya ada penerbangan jam 0515, entah kenapa hari Senen itu ditiadakan. Mungkin karena menjelang hari libur nasional. 4 Juli kan hari Kemerdekaan US, jadi libur nasional. Penerbangan berikutnya setelah jam 0700 adalah jam 1100. Kalau seandainya ada delay, pesawat penuh atau kerusakan pesawat atau apapun kendalanya, aku kudu ke Minneapolis untuk mengejar pesawat jam 11:40 yang menuju ke Detroit. Sedangkan jarak Duluth ke Minneapolis adalah 3 jam nyetir. Mepet sekali kan. Jadi dari pada riskan, lebih baik aku terbang semalam sebelumnya, bisa istirahat dengan tenang.

Rute Minneapolis – Detroit – Seoul – Hong Kong terbang pake mileage. Berangkat hari Senin 3 Juli jam 1140. Tiba di Hong Kong hari Selasa 4 Juli jam 2230. Hanya bayar pajak sekitar $14. Transit di setiap kota gak terlalu lama. Mau mandipun gak cukup waktunya. Penerbangan Minneapolis – Detroit dua jam. Gak perlu mandilah. Detroit – Seoul – Hong Kong 12 jam. Transit di Seoul 2 jam. Gak ada tempat mandi. Mungkin ada tapi kudu nyari dulu muter muter, habis sudah waktunya karena kepotong perjalanan dari gate kedatangan ke gate keberangkatan, plus pemeriksaan imigrasi. Di sini udah mulai kerasa rada pliket. Akupun ganti baju dalam aja. Baju luar gak usah.

Hong Kong – Denpasar, berangkat hari Rabu 5 Juli jam 1000 tiba di Denpasar jam 1500 di hari yang sama.

Nah ini mulai rada error.

Dari Seoul nyampe Hong Kong hari Selasa 4 Juli jam 2230. Rencana semula naik penerbangan Surabaya, karena ada penerbangan langsung ke Surabaya, Cathay Pacific dengan ngeZED. ZED adalah kepanjangan dari Zonal Employee Discount. Aku memang gak kerja di Cathay Pacific, melainkan maskapai lain. Tetapi setelah bekerja setahun aku berhak menggunakan fasilitas ZED dimana maskapai tempat aku gawe masuk dalam ZED. Berapa maskapai penerbangan yang ada di dalam ZED? Buanyakkk sekali, bisa puluhuan, termasuk Garuda. Harga tiketnya bervariasi. Bisa lebih murah dari harga umum bisa lebih mahal. Untuk rute Hong Kong – Surabaya dengan Cathay Pacific aku cukup membayar $94 dimana harga untuk umum yang paling murah (patokanku Traveloka) adalah sekitar 6juta rupiah (sekitar $460 itungan kurs sekarang). Itu penerbangan langsung di tanggal yang aku mau.

Sebulan sebelum berangkat udah memantau load pesawat setiap minggu. Bahkan beberapa hari menjelang keberangkatan aku pantau setiap hari. Hasilnya hampir konstan di atas 20 seat kosong dan tak ada satupun yang listing. Amanlah. Sebelum boarding juga masih sempat memantau, lebih dari 16 seat kosong dan baru listing satu orang. Masih aman. Begitu mendarat di Hong Kong, aku cek lagi, bujubuneng udah meroket minus 17 dan masih tetep satu orang listing. Itu artinya oversold.

Huaduhhh. Bijimane ini.

Aku bertanya ke bagian ticketing Cathay, rute Hongkong ke berbagai kota di Indonesia hampir penuh semua. “It’s Indonesian New Year, is it?” Begitu ujar salah satu petugas ticketing.

“Bukan!! That’s the feast of the end of Ramadan”

Ya apapun itu, yang jelas aku kudu puter otak, nyari rute lain. Hong Kong – Jakarta penuh meskipun ada beberapa penerbangan dalam sehari. Hong Kong – Surabaya penuh dan hanya ada sekali sehari. Hong Kong – Singapore ada banyak seat kosong, dan penerbangan paling dekat adalah jam 0130.

Akupun segera cari PW (Posisi Wuenak), buka laptop dan segera listing di penerbangan HKG – SIN jam 0130. Dan arghh…. gagal. Coba lagi, gagal lagi. Ternyata ditolaknya listing saya oleh sistem karena menjelang boarding. Saat itu sudah sekitar jam 12 lewat 10 menit. Ya sudahlah. Mau digimanain kalau ditolak. Waktu berjalan terus. Gak ada waktu untuk berkeluh kesah.

Jam penerbangan ke Singapore berikutnya penuh semua.

Tinggal satu rute yang tersisa, yang dekat dengan Surabaya, yaitu Hong Kong – Denpasar. Kabar baiknya, banyak seat kosong dan hanya beberapa staff yang listing. Ya sudahlah, ambil penerbangan ini. Dalam pemikiran saya, yang penting sudah nyampe Indonesia, terserah dari pintu mana. Denpasar – Surabaya udah deket, ibaratnya tinggal ngesot doang dan banyak pilihan. Mau budget airlines, mau kereta api, mau travel atau nggandhol truk sekalipun (kalau kepepet) banyak pilihannya.

Selesai masalah listing, kelar urusan? Oh ternyata belum.

Kelar listing, waktunya bayar.

Pada saat pembayaran, ternyata hanya menerima kartu kredit Visa atau Master sedangkan aku hanya punya American Express. Beberapa kali listingku ditolak karena sistem tidak mengenal kartu kredit Amex. Arghhh panik lagi. Keringat segede biji biji jagung berkeliaran di dahi, menambah rasa pliket di badan. Bagaimana gak panik, karena ngelisting penerbangan untuk staff hanya bisa online. Telpon ke bagian help desk gak bisa membantu karena semua prosedur bagi staff harus melalui online. Semuanya online.

Kalau gak ada kartu kredit Master ataupun Visa, artinya gak bisa ngelisting, gak bisa berangkat. Mau gak mau kudu beli tiket 6 juta sebagai revenue passenger. Modyarrrr. Gak rela!! Rute Amerika ke Hongkong cuma bayar $14, mosok rute yang lebih pendek bayar segitu. Gak rela betul.

Diamlah saya sebentar, menata hati dan napas. Berusaha mencari jalan keluar.

Aha… akupun ingat kalau suami memiliki kartu kredit Visa. Akupun telepon kembali ke helpdesk, apakah memungkinkan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit suami, jadi nama penumpang dengan nama yang bayar beda. “Yes, you can,” jawab seseorang di seberang.

Dan Alhamdulillah memang bisa, pembayaranpun berhasil dilakukan. Selain itu mungkin karena nama suamiku ada di dalam daftar fly benefit, jadi gak bermasalah.

Selain diriku, fly benefit ini juga berlaku bagi anak, suami dan orang tua.

Saat itu sudah jam 0100 pagi, penerbangan Hong Kong – Denpasar jam 1000. Check in baru dibuka jam 0600. Antara jam 0100 sampai jam 0600 ngapain? Keliling bandara cari makanan dan cari tempat shower. Kali kali aja ada.

Alhamdulillah ketemu, konternya doang, tanpa penunggu, alias belum dibuka. Deuhhh… kudu rela dengan kondisi badan pliket, ujung ujungnya ganti baju dalem lagi. Untungnya aku gak ada checked bagasi. Bawa tas cuma dua biji, satu koper kecil dan satu ransel, dua duanya ditenteng.

Gak bawa baju banyak, karena ngandelin baju yang ada di Surabaya. Begitu juga tentang baju dalem, gak bawa banyak, tapi lumayanlah bisa dipake ganti berkali kali selama perjalanan.

Selama keliling menunggu waktu check in, banyak ketemu para pahlawan devisa yang baik baik, dan aku ditawari ikut gelosoran di lantai beralas tikar mereka. Lumayan bisa ndelosor barang sejam dua jam sebelum check in.

Singkat cerita, saat check in tiba, aku langsung ke loket khusus bagi staff / standby dan Alhamdulillah langsung dapet seat.

Rute berikutnya, Denpasar – Jakarta – Surabaya.

Setelah mendarat di Denpasar, aku mulai browsing untuk penerbangan ke Surabaya. Kali ini gak ngeZED, karena satu satunya maskapai yang bisa ZED dan melayani penerbangan Indonesia hanya Garuda, dan  Garuda memberlakukan embargo selama musim mudik. Penerbangan mereka diutamakan untuk revenue passenger yang lagi mudik atau arus mudik.

Pemikiranku waktu mengambil rute Hong Kong – Denpasar seperti yang sudah aku jelaskan di atas adalah “yang penting udah di Indonesia. Denpasar – Surabaya udah deket, ibaratnya tinggal ngesot doang, banyak pilihan”, dan itu salah saudara saudara!!

Semua maskapai yang berkantor di bandara tersebut aku datangi satu per satu, baik yang budget maupun full service, dan semuanya menggelengkan kepala. Penuh semua hingga 7 Juli. Kalau mau, ambil yang tanggal 8 Juli. Deuh mau berapa lama lagi di jalan, baju dalem udah abis. Mosok mau side A side B?

Kereta api? tu artinya kudu keluar bandara, nyari angkot atau taksi ke terminal di Denpasar sana. Belum lagi kalau kena macet.

Bis malam?

Hayati lelah banggggggg!! Mikirin perjalanan darat yang berjam jam udah capek duluan. Itupun belum tentu dapet.

Salah satu petugas di budget airlines menyarankan untuk waiting list aja ke Garuda. Nah ini aku rada gak mudeng.

“Kalau waiting list di sampeyan gimana mas?”

“Gak bisa bu, karena kalau tiket udah terbayar, dan penumpang no show, ya hangus aja. Gak bisa dijual lagi. Jadi gak berlaku waiting list”

Aku manggut manggut aja, dan tanpa pikir panjang melesat ke kantor Garuda. Minta waiting list di sana. Sesampai di dalam, namaku dicatat petugas bagian check in sambil ngomong begini “Bu ini yang waiting list banyak lho, jadi kemungkinan dapetnya tipis sekali, tapi nama ibu tetep kami tulis di sini”

Ngomong begitu sambil nunjukin waiting list yang udah ada sekitar 20an orang. Hadohhhh tobat!!!

Aku cuma bisa lenger lenger bingung di depan petugasnya. Gak tahu musti ngomong apa. Karena kasihan ngeliatku yang entah udah lungset gak karuan petugasnya memberi solusi “bu, coba aja ke Jakarta, karena rute Jakarta – Surabaya banyak seat kosong.”

Ahh betul juga ya. Kenapa gak dicoba tho. Setelah berucap terima kasih, sedetik kemudian akupun melesat ke bagian ticketing.

“Mas, bisa pesan penerbangan ke Surabaya lewat Jakarta?”

“Bisa bu, banyak seat kosong ke Jakarta. Tapi mahal. Rute Denpasar – Jakarta aja 1,9juta Belum yang Jakarta – Surabaya”

Sampe sini, aku njomblak kaget. Pengen pulang sih pengen pulang, tapi bayar di atas 2juta? Yang boneng aja. Waktu aku browsing di Traveloka, pilihan Denpasar – Surabaya ada beberapa, dan harganya rata2 di atas 2,5 juta dengan transit di Jogjakarta, atau Bandung atau Semarang. Jangan tanya yang penerbangan langsung ya, habis semua.

Tetapi sekali lagi, petugas ticketingnya baik banget.

“Coba saya carikan tiket termurah ya bu.”

Biasanya kan orang jualan ngasih barang yang paling mahal, ini malah ngasih alternatif termurah, baik banget kan berarti?

Jadilah aku dikasih harga 1.6juta, udah sampe Surabaya dengan perincian Denpasar – Jakarta jam 2000 landing di Jakarta 2130, Jakarta – Surabaya keesokan harinya (tanggal 6 Juli) pesawat paling pagi (jam 0600).

Sebetulnya aku nggak langsung mengiyakan, masih tanya sana sini untuk perbandingan. Hampir semuanya bilang “udah bungkus aja. Itu termasuk murah di high season kayak gini. Apalagi Garuda.”

Ya udah, bungkus!!

Itu artinya kan aku glosoran lagi di bandara. Yo wis ra popo, udah biasa kleleran di bandara. Saat itu jam 1800, sebetulnya masih ada penerbangan ke Jakarta jam 1830, tapi itu yang tiketnya mahal, yang 1.9juta itu lho. Kalau yang jam 2000 alias penerbangan terakhir yang lebih murah.

Setelah landing di Jakarta, masuknya di terminal 3. Ternyata aku berada di bandara terbaik selama 5 hari perjalanan. Kenapa begitu??

Tempat ndlosornya manusiawi, karena aku ndlosor di mushola, bagusnya lagi musholanya dipisah antara laki laki dan perempuan. Jadi kalau mau tidur buka kerudungpun gak masalah. Tempat wudhupun juga dipisah. Ini yang sering jadi pemikiranku kalau wudhu. Masak ya cincing2 bawahan buat basuh kaki dan buka kerudung buat basuh kepala dimana tempat wudhunya gak dipisah. Jadi urusan wudhupun diperhatikan di terminal 3 ini. Denger denger katanya terminal 3 ini paling baru ya??

Selain itu, banyak disediakan kursi yang tanpa sandaran tangan, jadi buat ndlosor sangat nyaman.

Total semuanya kalau didolarkan adalah $14 + $59 + $126 = $199. Rong atus isih susuk sedolar, dan rute yang paling mahal justru rute lokal. Ya iyalah kan confirmed paid ticket.

Last but not least, banyak resto yang masih buka, dan menyediakan makanan Indonesia!! Hiyaaaaa… penting sekali itu buatku. Selain tentu saja shower gratis.

Tempat mandinya berada di dalam setelah security check, gak jauh dari gate 11.

Makan apa aja di bandara? Makanan bandara muahal muahal? Semahal mahalnya makanan bandara masih lebih mahal makanan Indonesia yang dijual di Amiriki Similikithi. Lagian yang di Indonesia lebih otentik tho.

Advertisements

3 thoughts on “Lima hari tanpa mandi

  1. rindunya aku mbak dengan tulisan2muuuu…aku dah lama absen dari tulis menulis..sekarang sedang berusaha kembali. Sek intip2 tulisanmu thok iki..sambil ngikik2 😀

      • WP ga seasik MP feture2nya juga utk layout n kemudahan upload2nya…bikin males…iki sedang bertekad kudu mbalik hehehe

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s