K F C (KetuFat Cantok)

Lima hari perjalanan udara sebenarnya nggak penuh lima hari betul. Kenapa begitu?

Berangkat dari nDuluth tanggal 2 Juli jam 1730, nyampe Surabaya tanggal 6 Juli jam 0700, gak sampe empat hari malah. 85,5 jam. Udah termasuk lay over di Minneapolis, transit di lima kota dan kleleran di tiga bandara.

Perlu diingat juga tentang perbedaan waktu antara Duluth dan Surabaya. Jadi mestinya ngitungnya gini, nyampe Surabaya tanggal 6 Juli jam 0700 yang artinya tanggal 5 Juli jam 1900 waktu Duluth. 85.5 jam – 12 jam = 73.5 jam. 3 hari lebih dikit. Welehhh tetep lama juga yak, walaupun gak lima hari.

Maksud menulis kali ini adalah, perjalanan udara yang cukup lama, begitu mendarat di tanah air, yang dicari pertama kali, apalagi kalau bukan makanan. Meskipun makanan bandara yang udah kesohor lebih mahal dari harga di luar, rasanya juga gitu gitu aja, buatku yang perantau dan jarang pulang, tetep aja rasanya luar biasa.

Jadi makanan apa yang aku embat begitu mendarat di tanah air?

  • Bandara Ngurah Rai, Bali. Jukut macantok. Makanan ini mengingatkanku akan Ubud. Waktu mau masuk Monkey Forest, di depan rimbunan pohon beringin banyak sopir travel nongkrong, beberapa di antaranya makan dengan alas ingke (piring anyaman rotan). Demi melihatku yang nampak tertarik dengan isi ingke tersebut, salah satu supir nyeletuk “makan ini, enak. Khas Bali, namanya KFC”

Tentu saja aku kaget, sejak kapan KFC jadi makanan khas Bali ya?

Keherananku gak berlangsung lama, karena teman si supir langsung menyahut “KetiFat Cantok”, dan langsung disambut gelak tawa rekan rekan lainnya, dan aku tentu saja.

Dari situ aku penasaran, kayak apa ya rasanya.

Nah, di bandara Ngurah Rai ini terjawab sudah penasaranku.

Tetapi nama Jukut yang aku kira artinya adalah daleman gedebok pisang, ternyata kata simbak penjualnya bukan. Arti sesungguhnya adalah sayur.

Rasanya enak bangettt, secara aku udah ketagihan sayuran segar. Emang di pesawat gak dapet salad? Ya dapet, tapi porsinya koyok slilit. Kurang nendang.

Tempat sendok garpunya lucu!
IMG_4921IMG_4923

  • Bandara Soekarno – Hatta, Cengkareng – Jakarta. Bakmi GM. Bakmi yang sangat terkenal, dan membuatku penasaran kayak apa rasanya. Seumur umur sepertinya baru dua kali makan bakmi GM. Yang pertama ditraktir temen, udah lama sekali, rasanya udah lupa. Yang kedua waktu akan balik dari Jakarta ke Surabaya, sambil nunggu boarding, sambil njajan bakmi GM di bandara. Rasanya? Lupa.

Nah di perjalanan kali ini, transit  di Jakarta kurang dari 12 jam di malam hari. Pesawat tiba di Jakarta jam 9 malam dari Denpasar. Pesawat yang menuju ke Surabaya baru berangkat jam 6 keesokan paginya. Untungnya di Terminal 3 ada kios bakmi GM di antara beberapa kios makanan lainnya yang buka hingga larut. Bakmi GM buka hingga pukul 2 pagi. Entah bukanya jam berapa, yang jelas saat aku check in jam 4 pagi, itu kios udah buka.

Rasanya? Bakminya tawar, masih jauh lebih enak mie pangsit Kedondong di Surabaya. Baksonya terlalu alus, gak cocok buatku yang demen makanan yang rada melawan. Meski begitu, di bakmi GM ini pangsitnya yang juara. Aku demen sekali. Empuk tapi masih kriuk kriuk rame. Dan aku cukup puas deh, kejawab rasa penasarannya.

Bakmi GM bandara

Advertisements

4 thoughts on “K F C (KetuFat Cantok)

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s